Dalam konsep agama apapun, semua yang ada di dunia ini tidak pasti, yang pasti hanya kematian. Mungkin ini benar adanya. Saat alam marah, kita seperti mainan yang dipermainkan.
Satu pelajaran berharga yang saya dapatkan, saat itu mungkin orang-orang yang kita benci, orang-orang yang kita sayang ataupun orang-orang yang tidak kita kenal sama-sama menangis. Tak akan pernah muncul sifat egois.
Saat dunia mengetahuinya, beramai-ramai para sukarelawan berdatangan, mereka juga beramai-ramai
mengadakan pengumpulan dana. Sang kaya yang terpanggil akan menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk mereka.
Yang membuat saya salut, seorang gelandangan juga ikut ambil bagian dalam kegiatan berdana ini.
Saat ditanya, Bagaimana dengan makanmu? Sang Gelandangan hanya tersenyum, "Saat ini saya masih bisa mencari uang walaupun hanya dengan meminta-minta, tapi mereka saat ini sedang sangat membutuhkan. Walaupun yang saya berikan ini sedikit, tapi mungkin ini bisa sedikit membantu mereka. Ya, walaupun sedikit tapi saya bahagia melakukannya."
Ya, Bahagia. Satu kata yang sangat jarang kita dengarkan saat ini, walaupun saat ini kita berkecukupan.
Yang luar biasa, pada sore harinya gelandangan mulia ini kembali dengan membawa sekitar $14. Darimana uang itu? "Saya menjual barang-barang yang tidak saya gunakan lagi", jawabnya dengan masih tersenyum.
Gelandangan menjual barang-barangnya yang sudah sangat sedikit hanya untuk menyumbang. Satu kata yang ingin saya ucapkan. Luar Biasa.
Di Medan, baru-baru ini di sebuah surat kabar (mungkin Anda juga pernah membaca) seorang Anak pedagang asongan menatap seorang insan Buddha Tsu Chi yang sedang mengadakan pengumpulan dana di sebuah pusat perbelanjaan.
Anak itu bertanya, "Apakah saya boleh menyumbang sedikit?" (Saya lupa nominalnya, mungkin Rp. 500,- atau Rp. 5000,-). Insan Buddha Tsu Chi menjawab dengan senyum, "Tentu saja." Lalu sang Anak memasukkan uangnya di kotak sumbangan dengan mata berlinang air mata.
"Orang tua saya telah tiada saat Tsunami dulu, saya benar-benar ingin membantu". Siapapun yang hadir di sana pasti akan terharu melihat kejadian itu, termasuk saya. Walaupun hanya pedagan asongan, tapi dia mengerti untuk saling membantu sesama tanpa harus memandang status sosial dan siapa yang dibantu.
Sekarang, apa bedanya kita dengan mereka? Segala keterbatasan hanya merupakan pikiran kita. Membohongi diri sendiri. Saat kita mengatakan BISA, apapun pasti bisa kita lakukan.