Sementara peserta yang mendapat giliran ditunjuk menjadi presenter dan memberikan paparannya, peserta yang lainnya diminta untuk memberikan masukan. Terlihat banyak yang memberikan masukannya kepada teman lainnya. Dengan demikian diharapkan agar mereka saling mengkritik demi kemajuan bersama. Benar saja, kritikan yang membangun membuat peserta pelatihan menjadi terbangkitkan dan mengkoreksi diri serta mempraktekkan yang namanya ”Continuous improvement” pengembangan yang berkesinambungan dalam diri mereka masing-masing.
Lain di acara pelatihan publik speaking di Batam tadi, lain pula di kelas yang saya bina di sebuah universitas. Disini Para siswa diminta untuk mempersiapkan diri dengan presentasi yang hendak mereka sampaikan. Mereka semua masing-masing diberikan waktu selama sekitar 5 menit. Dan ketika ada siswa yang gugup atau tak siap dengan materinya, siswa lain dengan mudahnya menyoraki temannya dengan teriakan ”Hu......” Tentu saja hal ini membuat siswa yang sedang memberikan presentasi bukan tambah berani, malah jadi gugup, bingung dan tak tahu mau berbuat apa lagi. Ketika itu saya meminta para siswa agar memberikan semangat bukan dengan kritikan yang membuat teman mejadi tersudut. Belajar untuk menerima orang lain apa adanya. Sementara juga tetap bercermin diri dan tak sombong. Kemudian suasana kelas berubah dari yang tadinya besorak dengan teriakan ”Hu...” menjadi teriakan ”Ayo, kamu bisa....” Benar saja, teman yang sedang gugup tadi merasa ada dukungan dan mulai menenangkan diri sembari menarik nafas dalam dan akhirnya ia menyelesaikan presentasinya dengan tenang dan penuh percaya diri.
Melatih diri untuk tidak segera merespon negatif dan saling memberikan saran yang membangun perlu dibina mulai dari sekarang. Selama ini sadarkah kita bahwa kita sering terlalu cepat memberi respon negatif manakala melihat sesuatu yang tak sesuai dengan harapan kita. Sadarkah kita bahwa apa yang terjadi ini adalah cerminan dari ego diri kita yang terlalu tinggi. Merasa diri lebih sempurna dan lebih bisa dari orang lain.
Benarkah kita sesempurna seperti yang kita sangka? Atau setujukah anda bahwa memang kita tak sempurna? Jika kita setuju bahwa kita tak sempurna dan hanya ada Tuhan, Allah semata yang sempurna, masihkah kita meyimpan kesombongan dan ego dalam diri kita?
Marilah kita belajar untuk saling memberikan kritikan yang membangun, dukungan dan semangat demi pengembangan diri kita semua.