Si anak menghindar ke pinggir lapangan dan kemudian menangis keras selama beberapa menit sampai akhirnya tangis itu melemah dan dia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Tak lama kemudian beberapa temannya yang lain memanggilnya dan segera ia berlari dengan sedikit kaki yang agak pincang akibat terjatuh tadi dan mulai kembali bermain bersama dengan teman yang lainnya. Terlihat jelas oleh mata kami bahwa sang anak betapa tak mempedulikan sakit yang diakibatkan temannya, ia tak mempersalahkan, namun menerimanya dengan lapang dada, serta bermain kembali.
Di lain kesempatan di Bogor, saya menerima konseling dari seorang bapak pada saat pelatihan yang terus mempersalahkan dirinya, lingkungan tempat kerjanya, teman dan atasannya. Ia tak mau menerima keadaan dipersalahkan terus, padahal ia pasti bahwa kesalahan bukan dari pihak dia. Sudah dicoba untuk membuka komunikasi dan berterus terang kepada lingkungannya namun terus saja ia merasa dicuekkan dan membuatnya menjadi semakin patah semangat dan kecewa dengan apa yang terjadi.
Membandingkan kedua kisah diatas, kita melihat dengan kontras betapa dua tindakan kita yang saling kontradiksi. Waktu kita kanak-kanak dulu, kita dengan mudahnya segera melupakan masalah yang kita hadapi, lebih terbuka, mau menerima keadaan dan tak mempersalahkan diri sendiri apa lagi orang lain. Namun ketika usia menginjak dewasa, kedewasaan kita malah memperlihatkan sebuah sikap yang sangat mencolok dan cendrung lebih egois. Kita mau menang sendiri, memendam perasaan atas masalah yang kita hadapi, bersifat tertutup, tak mau menerima keadaan dan malah mempersalahkan keadaan serta orang lain. Mari pada kesempatan yang indah ini kita lebih membuka diri dalam introspeksi diri lebih jauh kedalam.
Kenapa sekarang tangis dan air mata pun jadi kering seakan kedewasaan kita telah memusnahkan dan melenyapkannya dari diri kita? Bukankah lebih baik merenung ke relung hati yang paling dasar, didalam keheningan dan kesucian hati dan biarkan kesadaran yang tinggi membuat kita kembali ke sesuatu yang mendasar ; suci tak bernoda di saat kita kecil dulu.