Ketika seorang gadis menyampaikan hal ini kepada saya, saya menanyakan padanya, Adik, apa kamu masih ingat peribahasa yang mengatakan, mati satu tumbuh seribu? Atau kamu sadar bahwa kamu sangat beruntung karena sudah tahu sifat jelek pasangan kamu jauh sebelum kamu dan dia menikah? Dan bagaimana kalau ini kamu tahu setelah menikah, bukankah sangat tidak menguntungkan kamu?
Di sisi lain, seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan merasa sakit hati dan sebel dengan sikap teman lain yang selalu saja cari muka dengan bos. Suka menjelekkannya di depan teman lain dan mau menang sendiri. Akhirnya si teman memilih diam, namun marah, kesal dan memendam segala rasa kesal seberapa lama yang ia sanggup. Dan kalau tak sanggup akhirnya ia keluar dari perusahaan tersebut. Jika menilik dari sikap yang diambilnya, ia pasti akan sangat rugi karena setiap saat harus menyimpan rasa kesal tersebut. Daripada sakit hati akan lebih baik jika dimaafkan sehingga bekerja pun jadi tenang dan nyaman. Memaafkan adalah bagian dari reframing diri. Merubah cara kita memandang suatu permasalahan sehingga selalu berpikiran positif dan akhirnya menuntun kita ke sukses serta bahagia.
Setiap kali ada permasalahan yang kita hadapi, cobalah ambil nafas panjang dan tahan sejenak dalam hitungan 3, lalu hembuskan perlahan. Lihat, dengar dan rasakanlah permsalahan itu dari sisi yang lainnya. Keluar dari kerangka serta bingkai berpikir yang selama ini membelenggu kita sehingga akan terlihat, terdengar dan terasa hal yang lain yang justru dapat lebih menguntungkan kita dan lingkungan kita.
Kita selalu memilih memakai emosi dari pada akal sehat kita. Dengan reframing, kita belajar untuk melihat segala permasalahan yang kita hadapi dengan cara atau bingkai yang berbeda. Belajar untuk menerimanya dengan segala kebesaran hati. Dan akhirnya membuat hidup kita terasa lebih nikmat, nyaman dan bahagia. Dimana-mana ada damai dan ketenangan diri. Menuju sukses dan bahagia.