Dilihatnya bahwa batuan yang di bagian hulu terlihat sangat besar dan bentuknya yang agak persegi bahkan banyak bagian yang sedikit agak menonjol, runcing, tajam dan sedikit kasar.
Namun semakin ke bagian hilir sungai, bebatuan yang terlihat sudah semakin lebih kecil dan bentuknya pun ada yang membulat, oval dan bagian yang menonjol yang kami lihat di bagian hulu sungai sudah mengecil. Tak terlihat sama sekali bagian yang runcing atau tajam, malah ketika permukaan batu di pegang sangat terasa halus.
Tak sanggup menahan diri karena keindahan dan kelembutan batu di hilir sungai tersebut, saya sendiri mulai memungutnya dan mengumpulkannya.
Beberapa dari peserta lain juga turut mencari dan merasakan kelembutan batu yang ada di hilir sungai. Mereka berdecak kagum sembari mencoba mengambil hikmah dari pengalaman ini. Ada juga yang katanya mau dijadikan batu cincin.
Batu yang kasar dan tajam harus rela terkikis oleh derasnya air dan membiarkan dirinya mengalami perubahan. Berguling – guling dan berkali-kali mengalami benturan hingga tiba di hilir dengan bentuk yang indah.
Batu di hulu sungai menggambarkan diri kita yang belum berubah. Bentuk batu yang kasar, tajam, persegi mencerminkan diri yang penuh kesombongan, egoisme, keras kepala, tinggi hati, iri, dengki, sirik dan berbagai sifat negatif yang kita miliki. Sementara batu di hilir sungai yang membulat dan lembut menggambarkan diri yang sudah mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Menjadi lebih sabar, berpikir positif, solidaritas, kebersamaan, terbuka dan berbagai sifat yang positif lainnya.
Mengambil hikmah bebatuan ini, mari kita berubah menjadi lebih baik jika ingin keadaan berubah.
Hidup ini adalah PILIHAN, Saya memilih SUKSES. Salam sukses luar biasa!!